Sabtu, 12 November 2011

makalah tingkatan bahasa madura

ABSTRAK
      Pulau yang dikenal kental dengan logat bahasa yang unik memiliki beragam budaya di dalamnya. Baik dari cara bahasa yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari maupun dari seni tradisinya. Dalam hal ini kami akan membahas mengenai bahasa yang digunakan masyarakat madura dalam kehidupan sehari-harinya.
Ada beberapa tingkatan dalam penggunaan bahasa madura yaitu Enja’ Iye, Enggi Enten, dan Enggi Bunten
Enja’ Iye, Enggi Enten, dan Enggi Bunten” merupakan ondegga basa (tinggatan bahasa) dalam bahasa Madura. Dalam kehidupan sehari-hari, penggunaan bahsa Madura memiliki tingkatan tertentu. Tiap tinggkatan memiliki karakter dan ketentuan-ketentuan tertentu.
Sehingga dengan adanya makalah ini kalian bisa tau tentang bahasa madura dan tingkatan-tingkatanya serta bagaimana cara penggunaannya.















BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Indonesia terdiri dari beragam pulau,suku bangsa dan bahasa yang berbeda. Di masing-masing daerah tentu memiliki ciri khas dan bahasa daerah masing-masing. Salah satunya adalah pulau Madura. Pulau Madura ini terletak di sebelah Utara Jawa Timur.
            Pulau Madura ini terdiri dari empat kabupaten. Yaitu Kabupaten Bangkalan,Sampang,Pamekasan, dan Sumenep. Pulau yang dikenal sebagai penghasil garam ini suhunya sangat panas,tanahnya tandus dan kering. Namun di pulau ini kita dapat menemukan beberapa tempat wisata yang patut untuk dikunjungi.Wisata pantainya yang tak kalah indah dengan tempat wisata di daerah lain. Masyarakat pulau Madura ini juga dikenal dengan sifatnya yang arogan, keras, dan dendam. Namun pernyataan itu tidak semuanya benar, disamping sifatnya yang keras dan arogan masyarakat Madura ini juga dikenal ramah dan sopan.
            Pulau yang dikenal kental dengan logat bahasa yang unik memiliki beragam budaya di dalamnya. Baik dari cara bahasa yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari maupun dari seni tradisinya.Dalam hal ini kami akan membahas mengenai bahasa yang digunakan masyarakat madura dalam kehidupan sehari-harinya.

1.2 Rumusan masalah
a. apa itu bahasa madura
b. ada berapa tingkatan bahasa dalam bahasa madura
c. bagaimana cara penggunaan tingkatan bahasa madura

1.3 tujuan
a. untuk mengenal lebih dekat bahasa madura
b. untuk mengetahui tingkatan bahasa madura dan penggunaannya





BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Bahasa madura
Bahasa madura adalah bahasa yang digunakan Suku madura. Bahasa madura mempunyai penutur lebih kurang 15 juta orang. Kawasannya meliputi Pulau Madura, hujung Timur Pulau Jawa atau di kawasan yang disebut kawasan Tapal Kuda terbentang dari Pasuruan, Surabaya, Malang hingga ke Banyuwangi, Kepulauan Kangean, Kepulauan Masalembo, hingga Pulau Kalimantan.
Di Pulau Kalimantan, masyarakat Madura bertumpu di kawasan Sambas, Pontianak, Bengkayang dan Ketapang, Kalimantan Barat. Bagi kawasan Kalimantan Tengah mereka bertumpu di daerah Kotawaringin Timur, Palangkaraya dan Kapuas. Namun kebanyakan generasi muda Madura di kawasan ini sudah hilang penguasaan terhadap bahasa ibunda mereka.

Setelah terjadi rusuhan antara etnik di Kalimantan (Sambas dan Sampit), sebahagian besar masyarakat Madura kembali ke tanah kelahiran mereka. Walaupun mereka masih berharap untuk kembali ke Kalimantan, etnik Dayak bertegas untuk tidak menerima
mereka kembali.
Bahasa Madura merupakan cabang dari bahasa Austronesia ranting Melayu-Polinesia, dan mempunyai persamaan dengan bahasa-bahasa daerah lainnya di Indonesia.
Bahasa Madura banyak dipengaruhi oleh Bahasa Jawa, Melayu, Bugis, Tionghoa dan lain sebagainya. Pengaruh bahasa Jawa amat kuat dalam bentuk sistem hieraki berbahasa kesan pendudukan Kerajaan Mataram di Pulau Madura. Banyak juga kata-kata dalam bahasa ini yang berakar dari bahasa Indonesia atau Melayu bahkan dengan Minangkabau, tetapi dengan lafaz yang berbeza.




2.2 tingkatan bahasa madura
   Apa sih “Enja’ Iye, Enggi Enten, dan Enggi Bunten” itu?
“Enja’ Iye, Enggi Enten, dan Enggi Bunten” merupakan ondegga basa (tinggatan bahasa) dalam bahasa Madura. Dalam kehidupan sehari-hari, penggunaan bahsa Madura memiliki tingkatan tertentu. Tiap tinggkatan memiliki karakter dan ketentuan-ketentuan tertentu.
1.      Enja’Iye
Enja’ iye merupakan tingkatan bahasa paling rendah. Tingkatan ini biasanya digunakan oleh  orang yang lebih tua umurnya kepada orang yang lebih muda atau kepada teman yang sebaya atau seumuran. Misalnya seorang tua kepada anaknya, kakak kepada adiknya atau teman sepermainan yang telah akrab. Tapi pada tingkatan ini tidak diperbolehkan diucapkan oleh orang yang lemih muda ke yang lebih tua.
2.  Enggi Enten
Enggi enten merupakan tingkatan yang kedua. Pada tingkatan ini penggunaan baha mulai diperhalus. Biasanya tingkatan bahasa ini digunakan oleh  orang yang baru kenal, seorang pembicaraan antara mertua dan menantu, suami  isteri.  Oleh karena itu dalam penggunaan ini antara kasar dan halus.
3.  Enggi Bhunten
Enggi bunten merupakan tingkatan bahasa yang paling tinggi. Penggunaan ini dilakukan oleh orang yang lebih muda kepada orang yang lebih tua umurnya. Seperti seorang anak kepada orang tuanya, seorang murid kepada gurunya. Penggunaan bahasa dalam tingkatan ini sangat sopan.
Dalam kehidupan sehari-hari tingkatan bahasa ini sangatlah penting, karena hal ini memberi batasan kepada kita dan memberi kita sebuah tata krama yang amat baik, dengan siapa kita berbicara, mengetahui siapa lawan bicara kita, hingga pada akhirnya kita tahu batasan yang harus di lakukan.
Salah satu budaya yang telah pudar adalah budaya berbahasa engghi-bhunten bagi masyarakat Madura. Bahasa engghi-bhunten merupakan bahasa terhalus di Madura setelah bahasa engghi-enten sebagai bahasa tingkat pertengahan dan enje’-iye sebagai bahasa tingkatan paling kasar. Dalam tradisi Madura, bahasa engghi-bhunten setingkat dengan bahasa kromo inggil dalam tradisi Jawa.
Dalam implementasinya, bahasa engghi-bhunten biasanya digunakan untuk berkomunikasi dengan orang yang lebih tua dan orang yang dihormati, semisal dari anak ke orang tua, santri ke kiai, murid ke gurunya, staff ke atasannya dan sejenisnya. Sebagai contoh, kata panjennengngan atau ajunan yang berarti “kamu” digunakan untuk memanggil seorang kiai oleh para santrinya, dan kata abdhina untuk diri sendiri ketika berbicara dengan yang lebih terhormat. Tapi ironisnya, bahasa demikian kini telah merosot untuk tidak mengatakannya telah mati.
Menurut penulis, ada beberapa hal mendasar yang menyebabkan bahasa engghi-bhunten di Madura menjadi pudar. Pertama, minimnya tenaga ahli yang mampu bertutur dengan bahasa engghi-bhunten. Salah satu pengasuh pondok pesantren di Sumenep, KH. Baidlawi, pernah menuturkan bahwa di zaman yang terus berkembang ini makin sulit menemukan sosok yang ahli dalam berbahasa Madura halus. Kedua, minimnya dokumentasi yang menghimpun khazanah kekayaan bahasa Madura. Prof. Dr. Mien Ahmad Rifai mencatat bahwa dalam setengah abad terakhir ini hampir tidak ada tulisan atau buku yang ditulis dalam bahasa Madura, sehingga bahasa Madura—termasuk bahasa engghi-bhunten—tidak bisa diakses oleh masyarakat luas. Ketiga, hilangnya kebanggaan dan rendahnya komitmen penutur bahasa engghi-bhunten. Dalam hal ini dapat dilihat dari fenomena kaum muda yang sudah banyak berinteraksi dengan ragam budaya luar dimana mereka cenderung memilih bahasa luar dan meninggalkan bahasa daerahnya.
Jika hal demikian dibiarkan, maka dapat dipastikan prediksi Achmad Zaini Makmun—staf ahli Balai Bahasa Surabaya—tentang matinya bahasa Madura pada tahun 2024 akan menjadi kenyataan, lebih-lebih bahasa engghi-bhunten. Bukan hanya itu, lebih ironis lagi adalah matinya bahasa daerah akan membunuh nilai-nilai budaya daerah dimaksud, karena bahasa dengan budaya memiliki kaitan yang sangat erat dan tidak dapat dipisahkan.

1 komentar: